Aku barus saja mau mandi, tiba-tiba berdering telponku dan kulihat nomer yang lama itu muncul di layar kecil handphone genggam merek andalan orang Maluku, terik hari itu membuatku bercucuran keringat setelah mencuci baju. kuangkat telpon itu dan bicara dengan Bapak PIARA (Bapak Agus), kami saling menanyakan kabar, tentang sekolah, tentang desa dan tentang Fismal. Hari ini suaranya lantang sekali, kudengar ia berlari saat bapak memanggilnya untuk bicara dengan ku melalui telpon genggam miliknya, "Fismal sudah besar" katanya lantang. Samar-samar kembali kuingat di tahun 2015, perjumpaan kami yang begitu eksentrik, Ia malu-malu, menjabat taanganku saat pertama kali datang di rumahnya, mama mencoba menjelaskan kepadaku bahwa ia mungkin malu karena baru ketemu sore hari itu. Fismal semakin percaya diri, Ia dengan bangganya memberi tahu bahwa Ia sudah masuk SD kelas 1 di Atubul, bersama beberapa teman kanak-kanaknya kala itu, Fismal juga mengatakan bahwa Tri...
Salam Rindu Selamat malam kerinduan… aku berteman sepi dan bersahabatkan penantian Kusapa kau pembuat rinduku, kuingat kau rindu dengan hanya bernafas Tak terasa waktu yang berlalu bersama sepi hati membuatku semakin merindu Ini beda dengan bulu perindu yang biasa menebarkan rindu Ini rasa rindu yang abadi. Pernahkah kau merasakannya rindu? Perasaan ini sejuta kali merasakannya dalam setiap detik kehidupan Sepertinya tak layak ku bernapas tanpa merindu Rindu ini sudah seperti nafas yang kubutuhkan. Tak kunjung habis dan tak kunjung menghilang Semaunya saja masuk menerkam jiwa, se enaknya saja menghancurkan keadaan. Terlebih jika kusendiri bersama sepi Ia seperti setan yang merasuki jiwa-jiwa yang tak tenang Kumerindu pada rindu yang salah Atau memang kerinduanku membatku semakin rindu akan dirimu Saat yang paling kunikmati pada kesendirianku adalah merindukanmu rindu Karena tak saja kau mampu mengambilku dalam kesendirianku Jua kau mampu menari in...
Mencintaimu seperti ini, rasanya tak begitu layak, acap kali kukelabui diriku sendiri memintamu menjadi yang terkasih, malang mengirumku pada gemuruh hati yang menjadi-jadi, tersungkur penat lelah hati ini, begitu lama menjalaninya, tapi sama saja Serumpun kenangan datang kian berganti, masa-masa dulu masih menjadi indah disanubari, namun kenangan hanya fatamorgana masa silam yang acap kali merayu-rayu mengungkit kisah lama. Semampai kau berjalan, lenggak lenggok menggodaku dalam tarian hawa nafasmu, kau membaca mantra pemikat hati dengan semua kebersamaan. Waktu berjalan begitu cepat, di barat langit menjingga sedang ditimur membiru, birunya rabun dan kulihat perlahan awan itu berjalan perlahan, perlahan-lahan kau mencuri kesenjangan cintaku, membinarkan kesunyian ku. Terimakasih atas cinta yang menjadi nyata.
Komentar
Posting Komentar